Wahai anakku!!!
Sepanjang masa yang
telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki
yang cerdas dan bijak. Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun
nantinya engkau akan remas kertas ini, lalu engkau robek-robek, sebagaimana
sebelumnya engkau telah remas hati ibu, dan telah engkau robek pula
perasaannya.
Wahai anakku!!!!!
25 tahun telah
berlalu, dan tahun- tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku.
Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku, dan semua ibu
sangat mengerti arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam
diri ini, sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi ibu.
Semenjak kabar gembira tersebut, aku membawamu sembilan bulan. Tidur, berdiri,
makan, dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi, itu semua tidak mengurangi
cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
Aku mengandungmu
wahai anakku, pada kondisi lemah di atas lemah. Bersamaan dengan itu, aku
begitu gembira tatkala merasakan dan melihat terjalan kakimu, atau balikan
badanmudi perutku. Aku merasa puas, setiap aku menimbang diriku, karena bila
semakin hari semakin berat perutku, berarti dengan begitu engkau sehat wal
afiat di dalam rahimku.
Anakku……
Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah tiba
pada malam itu, yang aku tidak bisa tidur sekejap pun, aku merasakan sakit yang
tidak tertahankan, dan merasakan takut yang tidak bisa dilukiskan. Sakit itu
berlanjut, sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula, aku
melihat kematian di hadapanku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia,
dan engkau lahir. Bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata tangismu.
Ketika engkau lahir, menetes air mata bahagiaku. Dengan itu, sirna semua
keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku
kepadamu semakin bertambah, dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu,
sebelum ku raih minuman. Aku peluk cium dirimu, sebelum meneguk satu tetes air
yang ada di kerongkongan.
Wahai anakku !!!!!
Telah berlalu setahun dari usiamu. Aku membawamu dengan
hatiku, memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Sari pati hidupku,
kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur, demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.
Harapanku pada setiap harinya, agar aku selalu melihat senyumanmu.
Kebahagiaanku setiap saat, adalah setiap permintaanmu agar aku berbuat sesuatu
untukmu. Itulah kebahagiaanku.
Lalu berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti
bulan, tahun berganti tahun, selama itu pula, aku setia menjadi pelayanmu yang
tidak pernah lalai menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah dan
mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.
Aku selau memperhatikan dirimu, hari demi hari, hingga
engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang
tipis telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu, wahai
Anakku!!!!
Tatkala itu, aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan, demi
mencari pasangan hidupmu, semakin dekat hari perkawinanmu anakku, semakin dekat
pula hari kepergianmu. Tatkala itu, hatiku serasa teriris-iris, air mataku
mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka.
Tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan
pasangan karena engkau telah mendapatkan jodoh karena engkau telah mendapatkan
pendamping hidup. Sedangkan sedih karena engkau adalah pelipur hatiku, yang
akan berpisah sebentar lagi dari diriku.
Waktu pun berlalu, seakan-akan aku menyeretnya dengan berat,
kiranya setelah perkawinan itu, aku tidak lagi mengenal dirimu. Senyummu yang
selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah sirna bagaikan
matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan
buluh perindu, sekarang telah tenggelam, seperti batu yang dijatuhkan ke dalam
kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran, aku benar-benar tidak
mengenalmu lagi, karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.
Terasa lama hari-hari yang ku lewati, hanya untuk melihat
rupamu. Detik demi detik ku hitung demi mendengar suaramu. Akan tetapi
penantianku seakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk
menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu, aku menyangka bahwa engkaulah
orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering, aku merasa bahwa engkau
yang akan menelponku. Setiap suara kendaraan yang lewat, aku merasa bahwa
engkaulah yang datang.
Akan tetapi semua itu tidak ada, penantianku sia-sia, dan
harapanku hancur berkeping. Yang ada hanya keputus-asaan, Yang tersisa hanya
kesedihan dari semua keletihan yang selama ini ku rasakan, sambil menangisi
diri dan nasib yang memang ditakdirkan oleh-Nya.
Anakku!!!
Ibumu tidaklah meminta banyak, ia tidaklah menagih padamu
yang bukan-bukan. Yang ibu pinta kepadamu:
Jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah
ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap
wajahmu, agar ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.
Dan ibu memohon kepadamu nak, janganlah engkau pasang jerat
permusuhan dengan ibumu. Jangan engkau buang wajahmu, ketika ibumu hendak
memandang wajahmu.
Yang ibu tagih kepadamu:
Jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu,
agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana, sekalipun hanya sedetik. Jangan
jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi. Atau
sekiranya terpaksa engkau datang sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun
berlalu pergi.
Anakku!!!!
Telah bungkuk pula punggungku, bergemetar tanganku karena
badanku telah dimakan oleh usia, dan telah digerogoti oleh penyakit.
Berdirinya seharusnya telah dipapah, duduk pun seharusnya
dibopong.
Akan tetapi, yang tidak pernah sirna wahai anakku- adalah
cintaku Kepadamu masih seperti dulu
masih seperti lautan yang tidak pernah kering, masih seperti angin yang tidak pernah
berhenti.
Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang,
niscaya engkau akan balas kebaikan dengan kebaikan,
Sedangkan ibumu, mana balas budimu?
Mana balasan baikmu?!
Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air serupa?!
Bukan sebaliknya air susu dibalas dengan air tuba?!
Dan bukankah Alloh
ta`ala, telah Berfirman: Bukankah
balasan kebaikan, melainkan kebaikan yang serupa?!
Sampai begitukah keras hatimu, dan sudah begitu jauhkah
dirimu setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu.
Wahai anakku!!!!
Setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan
hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak?!
Karena engkau adalah buah dari kedua Tanganku, Engkau adalah hasil dari keletihanku,
Engkaulah laba dari semua usahaku.
Dosa apakah yang telah ku perbuat, sehingga engkau jadikan
diriku musuh bebuyutanmu?!
Pernahkah suatu hari aku salah dalam bergaul denganmu?!
Atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?!
Tidak dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang terhina
dari sekian banyak pembantu-pembantumu yang mereka semua telah engkau beri upah?!
Tidak dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku
di bawah naungan kebesaranmu?!
Dapatkah engkau sekarang menganugerahkan sedikit kasih
saying demi mengobati derita orang tua yang malang ini?!
Sesungguhnya Alloh mencintai orang- orang yang berbuat baik.
Wahai anakku!!!
Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan
yang lain.
Wahai anakku!!!!
Hatiku terasa teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau
sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan, bahwa engkau adalah laki-laki
yang supel, dermawan dan berbudi.
Wahai anakku!!!!
Apakah hatimu tidak tersentuh, terhadap seorang wanita tua
yang lemah, binasa dimakan oleh rindu berselimutkan kesedihan, dan berpakaian
kedukaan?!
Mengapa?
Tahukah engkau itu?!
Karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya.
Karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya.
Karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu
tepat menghujam jantungnya.
Karena engkau telah
berhasil pula memutuskan tali silaturrahim.
Wahai anakku!!!!
Ibumu inilah sebenarnya pintu surga, maka titilah jembatan
itu menujunya. Lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, kemaafan, dan
balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana, dengan kasih sayang
Alloh ta`ala sebagaimana di dalam hadits:
Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Sekiranya
engkau mau, sia-siakanlah pintu itu, atau jagalah! (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dishohihkan
oleh Albani)
Anakku !!!!!
Aku mengenalmu sejak dahulu, semenjak engkau telah beranjak
dewasa aku tahu engkau sangat tamak dengan pahala, engkau selalu cerita tentang
keuatamaan berjamaah. Engkau selalu bercerita terhadapku tentang keutamaan shof
pertama dalam sholat berjamaah, engkau
selalu mengatakan tentang keutamaan infak, dan bersedekah.
Akan tetapi satu hadits yang telah engkau lupakan, satu
keutamaan besar yang telah engkau lalaikan, yaitu bahwa Nabi -shollallohu
alaihi wasallam- telah bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdulloh bin
Mas`ud, ia mengatakan:
Aku bertanya kepada Rosululloh - shollallohu alaihi
wasallam-: Wahai Rosululloh, amal apa yang paling mulia? Beliau menjawab:
sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau
menjawab: Kemudian berbakti kepada kedua orang tua. Aku bertanya lagi: Kemudian
apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian jihad di jalan Alloh. Lalu aku
pun diam (tidak bertanya) kepada Rosululloh - shollallohu alaihi wasallam-
lagi, dan sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya.
Itulah hadits Abdulloh bin Mas`ud
Wahai anakku!!!!
Inilah aku, ibumu, pahalamu!!!
Tanpa engkau harus memerdekakan budak atau banyak-banyak
berinfak dan bersedekah, aku inilah pahalamu,
Pernahkah engkau mendengar, seorang suami yang meninggalkan
keluarga dan anak-anaknya, berangkat jauh ke negeri seberang, ke negeri entah
berantah untuk mencari tambang emas, guna menghidupi keluarganya?! Dia salami satu
persatu, dia ciumi isterinya, dia sayangi anaknya, dia mengatakan: Ayah kalian,
wahai anak-anakku, akan berangkat ke negeri yang ayah sendiri tidak tahu, ayah
akan mencari emas. Rumah kita yang reot ini, jagalah Ibu kalian yang tua renta
ini, jagalah!!
Berangkatlah suami tersebut, suami yang berharap pergi jauh,
untuk mendapatkan emas, guna membesarkan anak-anaknya, untuk membangun istana
mengganti rumah reotnya. Akan tetapi apa yang terjadi, setelah tiga puluh tahun
dalam perantauan, yang ia bawa hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia gagal
dalam usahanya.
Pulanglah ia kembali ke kampungnya. Dan sampailah ia ke
tempat dusun yang selama ini ia tinggal. Apa lagi yang terjadi di tempat itu, setibanya
di lokasi rumahnya, matanya terbelalak. Ia melihat, tidak lagi gubuk reot yang
ditempati oleh anak-anak dan keluarganya. Akan tetapi dia melihat, sebuah
perusahaan besar, tambang emas yang besar. Jadi ia mencari emas jauh di negeri
orang, kiranya orang mencari emas dekat di tempat ia tinggal.
Itulah perumpaanmu dengan kebaikan,
Wahai anakku!!!!
Engkau berletih mencari pahala
Engkau telah beramal banyak
Tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha
besar, di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu
masuk surga
Ibumu adalah orang yang dapat menghalangimu untuk masuk
surga, atau mempercepat amalmu masuk surge.
Bukankah ridloku adalah keridloan Alloh?!
Dan bukankanmurkaku adalah kemurkaan Alloh?!
Anakku!!!!!!
Aku takut, engkaulah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad
–shollallohu alaihi wasallam- di dalam haditsnya:
Celakalah seseorang, celakalah seseorang, dan celakalah
seseorang! Ada yang bertanya: Siapakah dia wahai Rosululloh? Beliau menjawab:
Dialah orang yang mendapati orang tuanya saat tua, salah satu darinya atau keduanya,
akan tetapi tidak membuat dia masuk surga. (HR. Muslim 2551)
Celakalah seorang anak, jika ia mendapatkan kedua orang
tuanya, hidup bersamanya, berteman dengannya, melihat wajahnya, akan tetapi
tidak memasukkan dia ke surga.
Anakku!!!!!
Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit, aku tidak akan
adukan duka ini kepada Alloh, karena jika seandainya keluhan ini telah
membumbung menembus awan, melewati pintu- pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan
dan kesengsaraan, yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat
menyembuhkannya.
Aku tidak akan melakukannya wahai anakku!!! Tidak!!!
Bagaimana aku akan
melakukannya, sedangkan engkau adalah jantung hatiku, bagaimana ibu ini kuat
menengadahkan tangannya ke langit, sedangkan engkau adalah pelipur lara hatiku
Bagaimana ibu tega
melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan
hidupku.
Bangunlah nak!!!! Bangunlah!!!!!
Bangkitlah nak!!!! Bangkitlah!!!
Uban - uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu
masa, sehingga engkau akan menjadi tua pula.
Sebagaimana engkau akan berbuat, seperti itu pula orang akan
berbuat kepadamu.
Ganjaran itu sesuai dengan amal yang engkau telah tanamkan.
Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam.
Aku tidak ingin engkau menulis surat ini, aku tidak ingin engkau
menulis surat yang sama, dengan air matamu kepada anak-anakmu, sebagaimana aku telah
menulisnya kepadamu.
Wahai anakku!!!!
bertakwalah kepada Alloh, takutlah engkau kepada Alloh!
berbaktilah kepada ibumu, peganglah kakinya, sesungguhnya surga berada di
kakinya basuhlah air matanya, balurlah
kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah
lapuk.
Anakku!!!!
Setelah engkau membaca surat ini, terserah padamu. Apakah
engkau sadar dan engkau akan kembali, atau engkau akan merobeknya.
Wa shollallohu ala nabiyyina muhammadin wa ala alihi wa shohbihi
wa sallam.
Dari Ibumu yang merana.

Tidak ada komentar